Support datang dari bukti adanya progress

Saya sering mendengar kata-kata ini dari downline :

“Tidak didukung suami”
“Hanya dipandang sebelah mata oleh orang tua”
“Dicibir dan diremehkan oleh mertua”

saat mereka sedang berjuang untuk sukses di Oriflame.

Akhirnya? mereka memutuskan untuk MENUNGGU restu dari orang terdekat dulu baru akan mulai menjalankan bisnis Oriflamenya dengan serius.

Karena menunggu restu, mereka diam.
Karena mereka diam, hasilnya ga ada.
Kalau hasil ga ada kira kira restu keluar ga yah?

Continue reading “Support datang dari bukti adanya progress”

Advertisements

Go 180, not 360

Fakta :

Aku bukan tipe orang yang suka ngikutin infotainment atau berita seputar artis. Jadi bisa dipastikan aku tidak pernah ngikutin Indonesian Idol.

Barusan, suami sharing cerita tentang salah satu ex-juara Indonesian Idol : Aris.

Suami : Kamu ingat dulu aku cerita soal peserta Indonesian Idol yang bikin Titi DJ nangis?

Me : yeah. why? *setengah fokus disambi baca training*

Suami : Dia menang Indonesian Idol.

Me : Uh huh… *masih setengah fokus*

Suami : Dia sekarang kembali jadi pengamen

Me : EH? o.O

Continue reading “Go 180, not 360”

Hello 2015!

Biasanya, postingan tahun baru punya tipikal yang sama :

“Hello 2015!

Ini resolusi tahun baru ku untuk tahun ini :

(insert list here)

semoga tercapai! ciayo!

— end post”

dannn… secara tipikalnya, by end of year, ga ada kejelasan berapa % dari list resolusi tersebut yang tercapai, kemudian di tahun depannya, resolusi yang sama bakal muncul lagi :p

Seperti postingan yang kutemui di Instagram :

New Picture

“Goal ku untuk 2015 adalah mewujudkan goal 2014 yang semestinya sudah kuselesaikan di tahun 2013 karena aku sudah berjanji di tahun 2012 dan merencanakannya di tahun 2011”

Hum.

My kind of past mistake.

So, this year, mari kita coba ganti dari “New year resolution” menjadi “New month resolution”

why?

Karena dengan target bulanan, kita bisa lihat hasilnya dalam 30 hari dan evaluasi what went wrong and what fixes need to be done A.S.A.P.

Agree?

From :-( into :-)

“Q, hidup loe koq kayanya enak bener ya? status loe rasanya positif melulu”

*a-hem*

Facebook ga bisa dijadikan patokan atas hepi ato enggak-nya kehidupan seseorang, readers. Itu sama aja kaya melihat album foto seseorang trus komen “kayanya hidup loe hepi melulu ya… isi albumnya makan kue melulu” (ya iya lahh masbroo mbayuuuu .. yang anda pegang itu album ulang tahunn…wkwkwk)

Tapi emang yang namanya rasa down, galau, sedih, sumpek, suntuk itu manusiawi.. natural untuk dialami tapi ga guna buat dipelihara. Biasanya, mood down punya sindrom / gejala sebagai berikut :

  • Otak nge blank sampai update status aja susah
  • Mau makan malas, mau mandi malas, mau keluar kamar malas, mau kerja malas, mau tidur diketawain bantal.
  • Ga diterima dimana mana. Dirumah diusir suruh cari udara segar, diluar disuru pulang karena bikin acara gloomy dan mengundang hujan (emang pawang hujan? :p )
  • Bisa juga diiringi dengan OCD (Obsessive Compulsive Disorder) yang tidak lazim. Misal : nyemil berlebihan, gonta ganti channel tv sampai remote aus, curhat ke burung perkutut, dll dst dsb.

Jadi, kalau satu atau semua sindrom diatas mulai dirasakan, segeralah ke klinik Tong Fang terdekat  cari cara untuk kembali hepi dan ceria. Berikut cara-cara yang biasa aku pakai untuk mengusir sumpek dan bad mood:

Continue reading “From 😦 into :-)”

Keluar dari kampret zone

Yep. Hari ini temanya keluar dari comfort (baca : kampret) zone.

Kenapa kampret zone?

Karena zona nyaman membuat kita stagnant di suatu tempat padahal mungkin saja kalau kita tetap berusaha, kita bisa mendapatkan hal yang lebih baik lagi… Instead, kita diam di tempat dan menjadi penonton mereka yang terus bergerak. Dan ketika mereka sampai di suatu hal yang kita inginkan, kita cuma bisa melihat dan membatin “kampret, mestinya gua juga bisa kaya dia”

b8694336cbbc67ea2f3c2b43b4a5b25c

Why this theme today?

Karena hari ini banyak hal baru yang kulakukan yang biasanya ga bakal kepikiran mau dilakuin.

Continue reading “Keluar dari kampret zone”